Ada yang tahu kata2 itu?

Kalo ada ya sukur, kalo ga ada ya saya kasih tahu: itu adalah kata2 dari Archer the Gorgonite dalam filem Small Soldier. Itu tuh filem anak2 yang mainannya bisa perang sendiri antara boneka tentara dan boneka kaum terasing. Jadi ikutan nonton filem anak2…

Artinya: “bila kamu tidak bisa melihatnya, tidak berarti itu tidak ada…”

Cinta antara pasangan suami istri, juga kurang lebih seperti itu. Sewaktu saya masih pacaran dulu, semuanya diukur dengan apa yang diberikan, apa yang ditunjukkan secara eksplisit. Pinginnya diucapin kata2 sayang, kata2 yang ‘enak2′ melulu. Sebetulnya sampai sekarang pun masih pingin. Tapi dengan berjalannnya waktu, tidak setiap ekspresi cinta itu bisa diucapkan, bisa ditunjukkan secara eksplisit, secara instan. Kadang, tidak mengucapkan sesuatu (a.k.a. ‘diam’) itu pun menunjukkan cinta kasih yang lebih mendalam.

Dalam hal seks pun sudah lebih tidak eksplisit, atau apa pun istilahnya. Terutama bila sudah menikah 10 tahun atau lebih. Seringkali tidak perlu mencapai klimaks, yang penting sudah bermesraan dan menjalin kehangatan. Itu lebih penting dari segala kenikmatan fisik. Dulu saya sering tidak percaya dengan ucapan orang yang sudah lebih senior tentang kepuasan batin. Tapi sekarang saya mengalaminya sendiri. Duh Gusti, does it mean I am getting old??

Semoga aja tidak (terlalu) ya..

Tapi yang namanya manusia, tentunya ada banyak tipe dan ragam. Misalnya banyak pertanyaan saat saya talkshow baik di tivi maupun radio, contohnya begini:

“Dok, saya seorang suami berusia 50 tahun, saya pinginnya tiap hari melakukan ‘itu’ tapi istri saya sering menolak. Akhirnya saya sering memaksa dia. Pernah saya tanya, ternyata istri saya ingin saya lebih romantis. Artinya dia ingin saya lebih banyak ‘berpacaran’ dan ‘pemanasan’ dulu sebelum bertempur sampai titik sperma yang penghabisan (kalo ini saya yang nambah2in, hihihihi). Apakah saya ini puber kedua? Ataukah saya ini suami yang hiperseks? Mohon solusinya dok.”

So, para pemirsa, apakah artinya semua itu? Berarti:

1. masih banyak orang yang kadar kematangan dan preferensi/ kesukaannya masih belum berkembang, atau

2. perkembangan kedewasaan secara seksual tiap orang tidak sama polanya. (ada yang masih suka seks to the point, ada yang masih suka variasi, ada yang sudah bisa menghayati non sexual intimacy), atau

3. ada ketimpangan seksualitas atau disfungsi seksual pada salah satu pasangan itu (misalnya: suami masih belum bisa memuaskan istri, atau sebaliknya).

Well, yang terpikir saat ini baru itu. Tapi saya yakin, pemirsa/ pembaca pun punya banyak masukan, karena saya percaya, tiap kehidupan suami istri merupakan sebuah ‘text book’ tersendiri, sehingga tidak ada yang betul2 ‘ahli’ dalam mendandani kehidupan seksual orang lain. Sex educator dan sex counsellor boleh menjadi advisor, tapi yang menjadi ‘the man behind the gun’ nya adalah pasutri itu sendiri.

Semoga bermanfaat.

@@Rehab Your Sex Life! by Dr Andi Sugiarto, SpRM.

Anak: mah, itu ada laki dan perempuan lagi ngapain sih?
Mama: itu lagi main kuda2an, nak. Emang kenapa?
Anak: Oohh, lagi main kuda2an. Kirain lagi berhubungan seks….. Lain kali kalo main kuda2an jangan di tempat terbuka dong ya mam… Nanti disangka lagi ML.
Mama: *gedubraks…!!! [mamanya langsung pingsan di tempat]*

Rehab Your Sex Life!

Ide seringkali muncul tiba-tiba. Waktu saya mandi di kamar mandi (of course, di kamar mandi lah, masa di terminal?) ada ide yang muncul. Yaitu tentang ilustrasi/ joke humor kakaktua yang pinter ngomong. Di masing2 kaki kakaktua itu dipasangi pita panjang. Kalo pita yang di kaki kiri ditarik, kakaktua itu ngomong yang bagus2, misalnya selamat pagi, selamat siang, apa kabar, kabar baik dan sebagainya. Kalau pita yang di kaki kanan ditarik, ngomongnya yang jelek2 dan kasar2, misuh2, mengumpat2, misalnya: @$#&^&*, $%@^#**(#, dll. pokoknya jelek2.

Terus, calon pembelinya tanya, “Kalo ditarik dua2nya, gimana?” Belum sempat penjualnya ngomong, si kakaktua sudah njawab, “Jatuh, dong!”

Lha, yang jadi masalah, saya mau nulis di blog ini tentang topik apa ya? Jadi pikun deh. Mungkin saya kurang hormon testosteron deh. Hihihi.

*mikir keras sambil ngelus2 dagu*

Oya, yang mau saya omongin adalah: dalam komunikasi dengan pasangan kita (pasutri), kita sering ngomong tanpa dipikir dulu. Kayak si calon pembeli itu. Dan juga yang sering bikin kisruh alias chaos, jawaban selanjutnya pun tidak basa basi dan penuh emosi, karena menganggap pasangan kita itu sudah ‘ngawur’ dan ’sembarangan dalam berbicara’.

Banyak pertengkaran yang (tidak perlu) terjadi karena *cara* menjawab yang kasar, tidak empati, sembarangan, kurang sopan, menyakiti hati, dan seribu alasan lainnya.

Saya sudah mencobanya dalam kehidupan sehari2, bila istri saya udah ngomel2 tentang hal yang saya anggap ‘trivial’, saya coba menjawabnya dengan hualusss banget (saking halusnya jadi hualusss). Eh, beneran, tidak ada pertengkaran dan gontok2an dan eyel2an diantara kita. So, saya lebih baik menghindari pertengkaran akibat kata2 gombal yang tidak perlu. Nanti bisa kita koreksi dengan mengucapkan kata2 yang perlu diucapkan, dengan nada yang halus dan nada rendah. Asik sik.

Never give up on a good thing, kata George Benson. But say it with love… kata Andi Sugiarto.

@@ Rehab Your Sex Life! by dr Andi Sugiarto, SpRM.