Bahayanya Kecanduan Pornografi: Amit-amit deh!

“Saya baru sadar kalau saya tak bahagia dalam pekerjaan dan hubungan dengan orang lain. Saya menggunakan pornografi sebagai pelarian.”

Sambil memejamkan sepasang matanya yang mulai lelah, Jason McClain mematikan komputernya. Di tengah kegelapan malam, karyawan di bagian IT itu lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.  Di hari itu Jason sebenarnya bekerja mulai pagi hingga siang. Tetapi ia terpaku selama berjam-jam di depan monitor hingga malam hari hanya untuk melihat situs-situs porno di internet.

Sejak masih sekolah, Jason sudah kecanduan dengan gambar-gambar telanjang.  Jason memang tidak sendiri, banyak pria lain yang menjadi korban pornografi internet. Sekitar enam persen dari populasi masyarakat di Inggris dilaporkan mengalami masalah dengan salah satu bentuk kecanduan seks ini.

Kegemaran menatap gambar atau film seronok di internet lama kelamaan membawa pengaruh buruk bagi Jason. Hasratnya yang begitu kuat untuk menikmati gambar dan tayangan porno membuat hubungan sosialnya terus memburuk. Beruntung, Jason kini sudah sembuh dan kembali hidup normal. Ia mampu melepaskan diri dari jeratan pornografi internet berkat kedisipilinannya dalam menjalankan program pemulihan yang ketat.

Jason bahkan sekarang menjadi seorang konselor terlatih yang membantu kesembuhan para pecandu pornografi. Diakuinya, dalam beberapa tahun ini terjadi peningkatan tajam jumlah pria yang mentalnya rusak akibat tekanan pornografi. Di antara para kliennya sekarang, Jason menemukan ada beberapa kebiasaan dalam mengakses pornografi :

– Pria mengorbankan hari liburnya untuk menurutkan hasrat mengakses pornografi.
– Pria mengorbankan hibungan sosial dengan teman atau keluarga hanya untuk menikmati pornografi
– Pria terobesi dengan seseorang dan pertemuannya dengan mereka dilihat sebagai  potensi menciptakan fantasi seksual atau pornografi.

“Saya ingat ketika masih remaja pornografi selalu memiliki daya tarik magis. Ketika saya mulai bekerja di IT tujuh tahun lalu, daya tarik itu kembali menguat karena semuanya dapat diakses melalui internet. Jika saya punya waktu luang di akhir pekan dan kebetulan tak ada jadwal, semua berubah menjadi sesi pornografi.  Saya bisa menghabiskan dua tau tiga jam saat itu, menatap pesona di layar komputer.

“Waktu akan menguap begitu saja dan saya heran akan apa yang saya lakukan. Setelah itu seperti ada sesuatu yang hilang, dan mencoba mengatasinya dengan kembali mengakses beberapa situs seperti halnya candu. Ini seperti lingkaran putus asa dan banyak pria yang mampu bertahan hingga jam 3 atau 4 pagi untuk memuaskan kebiasaannya,” paparnya.

Dampak buruk

Selain membuat kecanduan, pornografi memang dapat menimbulkan dampak buruk, sebagaimana terungkap dari survey terhadap para therapist yang dilakukan BBC Radio One.  Sebanyak 74 persen therapist mengatakan bahwa penggunaan pornografi internet secara berlebihan menjadi penyebab umum memburuknya hubungan.

Bagi Jason sendiri, statistik tersebut tidaklah mengherankan. Menurutnya, banyak wanita yang mengetahui pasangannya kecanduan pornografi menjadi sangat terpukul. “Ada kemarahan besar serta keraguan yang mungkin ia tak pernah bayangkan sama sekali. Hubungan saya pun berantakan, dan pornografi jelas memainkan peran akan kegagalan itu,” ujarnya.

Jason mengaku khawatir tren kecanduan pornografi akan terus berlangsung sehingga banyak pria makin terjebak dalam fantasi.

“Saya menyebutnya  ‘kacamata porno’, namun istilah yang tepatnya mungkin ‘obyektifikasi’. Ini terjadi ketika pria mulai menyerap pesan porno yang dikirimkan. Mereka mengobyektifikasi seseorang melintasi garis. Ini bukan berarti menunjuk seorang wanita di bar dan berpikir bahwa ia menarik. Setiap orang dievaluasi sebagai sebuah obyek. Bila Anda di supermarket, orang yang Anda lihat dinilai penuh secara seksual. Ketika Anda mencapai tahap infatuasi atau tergila-gila, ada sesuatu yang tidak benar. Suatu hubungan juga menjadi dalam tekanan karena seseorang mulai mengobyektifikasi pasangannya,” ujarnya.

Butuh kemauan besar

Fakta lain pun menunjukkan bahwa 70 persen aktivitas surfing pornografi dilakukan selama jam-jam kerja. Pada 2004, sebuah survey di Inggris mengungkapkan tujuh dari 10 perusahaan memecat karyawan yang mengakses pornografi di tempat kerja. “Di banyak tempat kerja, pornografi adalah masalah serius. Ini menunjukkan betapa sebagian orang nekat untuk melihatnya. Mereka rela mempertaruhkan pekerjaannya untuk sensasi sekejap,” ujar Jason

Bagi Jason, menghentikan kebiasaan buruknya membutuhkan kemauan besar serta ketetapan hati yang kuat.  Namun bagian terpenting dari penyembuhan ini adalah menentukan apa yang menjadi penyebab utama problem kecanduan ini.

“Saya punya latar belakang psikologi dan ketika saya menganalisa apa yang terjadi, saya baru sadar kalau saya tak bahagia dalam pekerjaan dan hubungan dengan orang lain. Saya menggunakan pornografi sebagai pelarian. Gambar-gambar ini mengalihkan saya dari dunia nyata, dan membuat saya mengelak dari persoalan dalam hidup saya. Untuk kebanyakan pria, itu menggantikan sosialisasi, merenggut hubungan serta merusaknya,” terangnya.

Jason juga punya nasehat penting buat para pria yang merasa dirinya kecanduan dengan pornografi. Pertama, cobalah untuk mendiskusikan masalah ini dengan orang yang mengerti Anda. Kedua, buatlah jadwal yang padat dalam aktivitas keseharian Anda dan ketiga hubungi konselor terlatih untuk menentukan dan mencari tahu kenapa kecanduan ini telah membelit Anda.

“Pastikan Anda termotivasi untuk mengatasi kecanduan ini karena jika tidak, tak ada jalan buat Anda untuk berhasil. Saya menyadari, alam bawah sadar saya merencanakan membuat setiap malam dan akhir pekan dalam kondisi bebas sehingga saya bisa online. Oleh sebab itu, pergilah keluar rumah lakukan sesuatu dan taati waktu tidur yang ketat. “Menahan kebiasaan Anda adalah sebuah ide buruk. Anda butuh bantuan teman dekat untuk berdiskusi. Dengan bebasnya layanan internet dan kemudahan pornografi, tak heran jika pria menjadi tertarik  Mendengar nasihat dari profesional tentu sangat ideal sebab dapat menentukan apa yang menjadi penyebab kecanduan. Ketika apa yang terjadi pada Anda terungkap, hal itu akan memberi anda perspektif baru,” tandas Jason.

sumber : alfaridzy dari milis pasutri

@@Rehab Your Sex Life! by Dr Andi Sugiarto, SpRM

Laughter is the best medicine

Penyuluhan Dokter Gigi

Seorang dokter muda berparas cantik dari kota melakukan penyuluhan kesehatan di suatu desa. Kepada penduduk desa yang sudah berkumpul di halaman puskesmas, dokter itu berkata, “Menjaga kesehatan diri sendiri dimulai dari bagaimana menjaga kesehatan mulut.”

Lalu dokter itu menoleh ke sekumpulan bapak-bapak. “Saya ingin tahu, seberapa sering bapak-bapak menggosok gigi?”

Warga 1 : (agak malu-malu) “Kalo saya sih cukup sekali sehari.”

Warga 2 : “Payah! Saya 3 kali sehari.”

Dokter : “Bagaimana perhitungannya?”

Warga 2 : “Pagi hari setelah sarapan, siang hari setelah makan, dan malam hari sebelum tidur.”

Warga 3 : “Gitu aja sombong … saya dong 12 kali!”

Dokter : “Wah … itu bagaimana ngitungnya?”

Warga 3 : “Januari, Februari, Maret, ….”

Dokter : “@#$%$&”

Harus Tanggung Jawab

Sang Ayah dan ibu sangat murka ketika mengetahui anak perempuan mereka hamil.

“Siapa si bedebah itu,” jerit sang ayah, sedang si ibu menangis.

“Suruh dia datang kesini!”

Setengah jam kemudian sebuah mobil Ferrari merah berhenti di depan rumah. Seorang lelaki separuh baya keluar dari mobil, memberi salam lalu masuk
kerumah.

Lelaki itu berhadapan dengan ibu dan ayah perempuan yang telah dihamilinya.

Dia berkata, “Saya lelaki yang telah menghamili anak anda. Tapi terus terang saya katakan saya tidak dapat menikahi anak anda karena isteri saya tak mengizinkan. Namun bagaimanapun, saya akan bertanggung jawab.

Sekiranya anak anda melahirkan seorang bayi perempuan saya akan wasiatkan untuknya dua buah supermarket, sebuah hotel dan uang tunai 5 milyar rupiah.

Sekiranya dia melahirkan anak lelaki saya akan wasiatkan untuknya dua buah kilang, dua buah supermarket, dua buah hotel dan uang tunai 10 milyar rupiah.

Tapi sekiranya anak anda keguguran apakah yang harus saya lakukan?”

Sang ayah berfikir. Si ibu berhenti menangis. Akhirnya sambil menepuk bahu lelaki itu, sang ayah berkata: “Kalau keguguran, kamu coba lagi ya !!”

Sumber: ketawa.com, sumbangan dari Ibu Janti, Jakarta.

@@Posted by Dr Andi Sugiarto, SpRM for Rehab Your Sex Life!

Lindungi anak dari Pornografi: outline ceramah

Seks memang menarik dan menantang, terutama untuk anak muda dan remaja. Untuk semua orang, orang tua pun masih tertarik, apalagi remaja. Bagi remaja, segala hal itu masih ‘baru’. Apalagi masalah seksual, semuanya masih ‘gelap’, misterius dan menantang. Belum lagi iming2 kenikmatan yang menanti dari seks tersebut. Semua ini gara-gara bacaan, media, koran, internet, yang terlalu dini dibaca anak2 dan remaja.

Apa yang harus kita lakukan?

Pagari mentalnya
Berikan pengertian dan pendidikan seksualitas
Berikan informasi yang benar
Tanamkan sikap yang netral terhadap seks: sikap yang positif,

Proteksi, hindarkan
Lindungi dari paparan pornografi
Taruh komputer di ruangan keluarga, bukan di ruang pribadi/ kamar
Periksa HP anak secara berkala
Bersihkan rumah dari majalah, video
Bersihkan komputer dari gambar, video porno

Tempat yang harus dihindari
Jangan berduaan saja
jangan ke tempat yg gelap dan memungkinkan dua orang bersentuhan, misalnya karaoke, diskotik, bioskop, pantai, tempat sepi

Lindungi dari pelecehan seksual
SEring tanyai anak apakah ada orang yang suka pegang2 pipi, badan, sering cium, peluk
Pantau orang di dekat anda, apakah mereka bisa dipercaya
Berikan anak sentuhan yang cukup, jangan biarkan mereka mengalami sindroma kurang sentuhan

Kenali teman2 anak anda
Ajak teman anak main kerumah dan jalan2 ke mall
Dampingi anak saat nonton sinetron, TV
Dampingi saat browsing internet
Berikan pendidikan seksualitas secara aktif terhadap anak
Jawab pertanyaan anak tentang seks secara memuaskan
Banyak-banyaklah ngobrol dengan anak
Kadang kita tidak bisa men’sterilisasi’ anak dari pengaruh pornografi dari luar, tapi kita bisa memperkuat anak dengan benteng iman

Untuk mengetahui lebih banyak, klik www.dokterandi.com

Special case:
Orang tua yang mengalami trauma seksual dan broken home, perceraian dll cenderung mempunyai sikap negatif terhadap seks. Coba minta advis dari dokter/ profesional agar orang tua bisa mengajarkan sikap yang netral terhadap seks.

Ada orang tua yang longgar, dan mengijinkan anak utk pacaran secara dini, coba pertimbangkan kembali keputusan itu dan lebih fokuskan anak pada pelajaran.

Bila menemui anak sedang membaca majalah porno, gimana sikap anda? Apa yang akan anda katakan?

Bila anak tertangkap basah sedang O, apa yang akan anda lakukan?

Bila ada video atau gambar porno di HP anak, bagaimana sikap anda?

Bila ada sms/ surat cinta anak dengan temannya, apa yang dilakukan?

Bila anak tertangkap basah sedang pelukan, pegangan tangan dengan temannya, apa reaksi anda?

Pendidikan Seksualitas untuk Anak

Dr Andi, saya seorang ibu, anak saya usianya 13 dan 12 tahun. Mereka sudah mulai akil baliq. Seringkali saya khawatir bila mendengar adanya kejahatan seksual dan pelecehan terhadap anak. Juga banyak kasus video mesum yang menimpa anak SMP dan SMA. Bagaimana caranya memberikan pengertian dan pendidikan seksual untuk anak usia segitu dok. Terimakasih, dr Andi.
Ny Santi di Semarang.

Jawaban dr Andi:
Bu Santi, memang sulit untuk mendidik anak pada jaman sekarang ini, terutama di bidang seksualitas ini yang sekarang makin lama makin terbuka. Tugas kitalah sebagai orang tua, pendidik dan kalangan medis yang mendapat tanggung jawab untuk bisa mengarahkan anak-anak kita menjadi insan yang mempunyai sikap, pengetahuan dan perilaku seksual yang baik.

Cara aktif
Sebagai orang tua, kita bisa memulai memberikan pendidikan seksualitas pada anak dan remaja dengan dua cara yaitu aktif dan pasif. Cara aktif artinya memberikan keterangan dan penyuluhan tanpa diminta. Misalnya pada hari Minggu pada saat kumpul dengan anak dan suami, ibu mengajarkan tentang proses kehamilan, proses menstruasi, proses kelahiran. Sumbernya bisa dari buku-buku yang bisa dibeli di toko buku terkenal. Banyak buku yang membantu orang tua mengajarkan tentang  pendidikan seksualitas pada anak. Bisa dengan cara lain, yaitu pada saat menonton televisi, kita mendengar tentang adanya kasus perkosaan, kasus pelecehan seksual atau kasus video mesum, kita bisa membahasnya dengan anak kita. Sambil kita mengarahkan anak kita ke arah yang baik.

Cara pasif
Cara pasif, yaitu dengan menjawab pertanyaan anak. Cara ini cukup baik, tapi sifatnya pasif dan menunggu anak memberikan pertanyaan. Bila anak aktif bertanya, cara ini cukup efektif. Bila anak tidak bertanya, kita harus aktif memberikan informasi dan nasehat serta bahasan terhadap suatu kasus seksualitas yang ada.

Seberapa jauh
Pertanyaannya, seberapa jauh atau seberapa dalam sih kita memberikan pendidikan seksualitas kepada anak kita. Apakah kita harus ‘memberitahukan semuanya’ atau kita memberitahu hanya di bagian luarnya saja. Sebagai pedoman, kita coba memberitahu kepada anak sebatas keingintahuan anak saja dulu. Bila rasa ingin tahu anak sudah terpuaskan, kita bolehlah berhenti sebatas itu. Yang repot bila anak sudah pernah tahu atau mendengar dari bacaan atau dari orang lain, kita sebaiknya memberitahukan yang sebenarnya terhadap anak. Janganlah berbohong dan menutup-nutupi bila anak sudah tahu. Yang penting adalah mendorong sikap anak yang baik dan benar terhadap seksualitas.

Materinya apa?
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang mau kita bicarakan dulu tentang pendidikan seksualitas ini? Yah, kita bisa mulai dengan jenis kelamin, tugas dan kebiasaan pria dan wanita. Juga kita bisa membahas anatomi alat kelamin pria dan wanita. Selain itu, ditanamkan menjaga kebersihan dan higiene alat genital anak. Tanamkan sikap bahwa tidak semua orang boleh memegang alat kelamin anak. Bila anak merasa tidak nyaman, tanamkan keberanian untuk berkata, “Stop, hentikan, dan tolong!” bila ada orang yang memaksa memegang alat kelamin anak. Bicara tentang materi ini memang banyak sekali, bisa dilihat di buku pendidikan seksualitas anak atau di www.dokterandi.com.

Materi untuk remaja dan pubertas
Kita bisa membahas tentang menstruasi, kehamilan dan persalinan, tentang pacaran. Juga membahas kasus mereka yang hamil karena ‘kecelakaan’, perkosaan, pelecehan seksual. Memang ini perlu waktu dan juga ‘keberanian’ dan ‘kenekatan’ dari orang tua, karena banyak sekali orang tua yang dulunya tidak pernah diberi pendidikan seksualitas oleh orang tua mereka atau guru mereka dahulu.

Pendidikan seksualitas di sekolah
Saat ini sudah mendesak perlunya pendidikan seksualitas di sekolah-sekolah, mulai SD, SMP, SMA. Bila mungkin, dijadwal tiap 3 bulan dengan pengajar yang terlatih atau yang berkompeten. Materi pendidikan ini perlu dirembug bareng antara guru, dokter/ tenaga terlatih, dan wakil orang tua/ komite sekolah. Jadi semua materi ini diketahui dan disetujui bersama dari pihak-pihak tersebut di atas, sehingga nantinya tidak ada materi yang ‘kebablasen’ atau ‘dianggap tabu’ oleh pihak tertentu.

Tidak ada baku, tergantung keadaan
Dalam memberikan pendidikan seksualitas bagi anak dan remaja, tidak ada baku atau standar tertentu yang mengikat, semuanya tergantung dari keadaan anak. Bagi remaja yang sudah sering mendapat informasi dari bacaan dan internet, perlu materi yang lebih luas dan mendalam. Tidaklah sama dengan anak dan remaja yang merupakan ‘pemula’ dan masih ‘fresh’ atau ‘lugu’.

Minta bantuan dokter/ profesional
Bila ibu masih ragu tentang pendidikan seksualitas bagi anak ibu, bisa minta pendapat dan advis dari dokter atau profesional yang nantinya bisa memberikan pedoman apa yang harus diberitahukan kepada anak. Semoga anak-anak bu Santi bisa menjadi anak yang baik dengan pendidikan dari ibu!