Pendidikan Seksualitas untuk Anak

Dr Andi, saya seorang ibu, anak saya usianya 13 dan 12 tahun. Mereka sudah mulai akil baliq. Seringkali saya khawatir bila mendengar adanya kejahatan seksual dan pelecehan terhadap anak. Juga banyak kasus video mesum yang menimpa anak SMP dan SMA. Bagaimana caranya memberikan pengertian dan pendidikan seksual untuk anak usia segitu dok. Terimakasih, dr Andi.
Ny Santi di Semarang.

Jawaban dr Andi:
Bu Santi, memang sulit untuk mendidik anak pada jaman sekarang ini, terutama di bidang seksualitas ini yang sekarang makin lama makin terbuka. Tugas kitalah sebagai orang tua, pendidik dan kalangan medis yang mendapat tanggung jawab untuk bisa mengarahkan anak-anak kita menjadi insan yang mempunyai sikap, pengetahuan dan perilaku seksual yang baik.

Cara aktif
Sebagai orang tua, kita bisa memulai memberikan pendidikan seksualitas pada anak dan remaja dengan dua cara yaitu aktif dan pasif. Cara aktif artinya memberikan keterangan dan penyuluhan tanpa diminta. Misalnya pada hari Minggu pada saat kumpul dengan anak dan suami, ibu mengajarkan tentang proses kehamilan, proses menstruasi, proses kelahiran. Sumbernya bisa dari buku-buku yang bisa dibeli di toko buku terkenal. Banyak buku yang membantu orang tua mengajarkan tentangĀ  pendidikan seksualitas pada anak. Bisa dengan cara lain, yaitu pada saat menonton televisi, kita mendengar tentang adanya kasus perkosaan, kasus pelecehan seksual atau kasus video mesum, kita bisa membahasnya dengan anak kita. Sambil kita mengarahkan anak kita ke arah yang baik.

Cara pasif
Cara pasif, yaitu dengan menjawab pertanyaan anak. Cara ini cukup baik, tapi sifatnya pasif dan menunggu anak memberikan pertanyaan. Bila anak aktif bertanya, cara ini cukup efektif. Bila anak tidak bertanya, kita harus aktif memberikan informasi dan nasehat serta bahasan terhadap suatu kasus seksualitas yang ada.

Seberapa jauh
Pertanyaannya, seberapa jauh atau seberapa dalam sih kita memberikan pendidikan seksualitas kepada anak kita. Apakah kita harus ‘memberitahukan semuanya’ atau kita memberitahu hanya di bagian luarnya saja. Sebagai pedoman, kita coba memberitahu kepada anak sebatas keingintahuan anak saja dulu. Bila rasa ingin tahu anak sudah terpuaskan, kita bolehlah berhenti sebatas itu. Yang repot bila anak sudah pernah tahu atau mendengar dari bacaan atau dari orang lain, kita sebaiknya memberitahukan yang sebenarnya terhadap anak. Janganlah berbohong dan menutup-nutupi bila anak sudah tahu. Yang penting adalah mendorong sikap anak yang baik dan benar terhadap seksualitas.

Materinya apa?
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang mau kita bicarakan dulu tentang pendidikan seksualitas ini? Yah, kita bisa mulai dengan jenis kelamin, tugas dan kebiasaan pria dan wanita. Juga kita bisa membahas anatomi alat kelamin pria dan wanita. Selain itu, ditanamkan menjaga kebersihan dan higiene alat genital anak. Tanamkan sikap bahwa tidak semua orang boleh memegang alat kelamin anak. Bila anak merasa tidak nyaman, tanamkan keberanian untuk berkata, “Stop, hentikan, dan tolong!” bila ada orang yang memaksa memegang alat kelamin anak. Bicara tentang materi ini memang banyak sekali, bisa dilihat di buku pendidikan seksualitas anak atau di www.dokterandi.com.

Materi untuk remaja dan pubertas
Kita bisa membahas tentang menstruasi, kehamilan dan persalinan, tentang pacaran. Juga membahas kasus mereka yang hamil karena ‘kecelakaan’, perkosaan, pelecehan seksual. Memang ini perlu waktu dan juga ‘keberanian’ dan ‘kenekatan’ dari orang tua, karena banyak sekali orang tua yang dulunya tidak pernah diberi pendidikan seksualitas oleh orang tua mereka atau guru mereka dahulu.

Pendidikan seksualitas di sekolah
Saat ini sudah mendesak perlunya pendidikan seksualitas di sekolah-sekolah, mulai SD, SMP, SMA. Bila mungkin, dijadwal tiap 3 bulan dengan pengajar yang terlatih atau yang berkompeten. Materi pendidikan ini perlu dirembug bareng antara guru, dokter/ tenaga terlatih, dan wakil orang tua/ komite sekolah. Jadi semua materi ini diketahui dan disetujui bersama dari pihak-pihak tersebut di atas, sehingga nantinya tidak ada materi yang ‘kebablasen’ atau ‘dianggap tabu’ oleh pihak tertentu.

Tidak ada baku, tergantung keadaan
Dalam memberikan pendidikan seksualitas bagi anak dan remaja, tidak ada baku atau standar tertentu yang mengikat, semuanya tergantung dari keadaan anak. Bagi remaja yang sudah sering mendapat informasi dari bacaan dan internet, perlu materi yang lebih luas dan mendalam. Tidaklah sama dengan anak dan remaja yang merupakan ‘pemula’ dan masih ‘fresh’ atau ‘lugu’.

Minta bantuan dokter/ profesional
Bila ibu masih ragu tentang pendidikan seksualitas bagi anak ibu, bisa minta pendapat dan advis dari dokter atau profesional yang nantinya bisa memberikan pedoman apa yang harus diberitahukan kepada anak. Semoga anak-anak bu Santi bisa menjadi anak yang baik dengan pendidikan dari ibu!