Diabetes adalah kondisi gula darah yang tidak terkontrol akibat gangguan autoimun, atau organ pankreas yang tidak cukup memproduksi insulin yang menyebabkan kenaikan gula darah. Hal ini juga bisa karena tubuh tidak mampu memetabolisme gula dengan baik karena kurangnya respon insulin, sehingga terjadi lonjakan gula darah. Diabetes sanggup mengacaukan pembuluh darah (disfungsi endotel), fungsi otot, serta jaringan syaraf tubuh (neuropati diabetik). Penurunan aliran darah dan kerusakan saraf pada penis merupakan penyebab disfungsi ereksi utama pada laki-laki dengan diabetes. Biasanya dapat ditemukan keadaan lain yang berkaitan dengan kerusakan saraf atau sirkulasi darah, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol darah yang tinggi, atau penyakit jantung.
Mulailah untuk mengatur pola makan Anda dengan lebih berhati-hati dan bijaksana. Karena salah-salah kejantanan Anda yang menjadi korbannya.
Vaginismus, Hadapi Berdua
Vaginismus adalah kontraksi involunter (diluar kehendak sadar) dari otot vagina dan otot dasar panggul.Wanita yang vaginismus sering menganggap bahwa mereka ‘terlalu sempit’, sehingga vagina harus diregangkan. Dalam beberapa kasus sesak vaginismus mungkin menyebabkan rasa seperti terbakar, nyeri, atau menyengat saat berhubungan seksual. Dalam kasus lain, penetrasi mungkin sulit atau bahkan sama sekali tidak mungkin dilakukan.Ini menimbulkan bayangan bahwa hubungan seks atau penetrasi apa pun akan menimbulkan nyeri. Padahal wanita yang vaginismus tidak perlu meregangkan vagina, mereka justru perlu belajar mengontrol otot sekitar vagina. Mengatasi vaginismus bukan hanya melibatkan wanita saja — pasangan seks si wanita (suami) juga harus benar-benar ikut dalam terapi seks ini. Itulah sebabnya mengapa banyak ahli terapi yang ingin melibatkan kedua pasangan dalam sebuah terapi seks — dan mengapa kesabaran, sikap yang bijak dan kelembutan (dari kedua belah pihak) begitu penting.
klik http://www.dokterandi.com/2015/11/10/vaginismus-hadapi-berdua/
Usia Menua Tetap Berusaha
Pada usia 50 an orgasme bukan lagi target yang ingin dicapai. Setelah memasuki lima dekade, Anda tetap bisa menghidupkan kobaran gairah dengan lebih fokus pada setiap sentuhan. Perhatikan perasaan Anda ketika kulit Anda saling bersentuhan. Seluruh sensasi fisik dan emosional itu akan mendorong produksi hormon oksitosin yang membuat perasaan nyaman. Jika Anda hanya fokus untuk mencapai klimaks, Anda akan kehilangan banyak sensasi. Pada usia ini kaum wanita juga memasuki masa menopause sehingga kondisi vagina lebih kering dan berkurang elastisitasnya.
Foreplay Dulu, Manjakan Wanita
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 33% wanita menginginkan foreplay atau pemanasan yang lebih lama dan berkesan sebelum bercinta. Hal ini kadang dilupakan oleh pria yang cenderung begitu berambisi memuaskan hasratnya sendiri dengan sesegera mungkin sehingga terburu-buru melakukan penetrasi dan ingin mencapai orgasme. Akan tetapi wanita memiliki mesin seks yang lebih lambat daripada pria, mereka ternyata memerlukan waktu yang lebih lama untuk bisa sepenuhnya terangsang dan kemudian mencapai orgasme atau klimaks.
Foreplay bisa dilakukan dengan aktivitas berciuman, berpelukan, membelai dan segala tindakan yang dilakukan untuk membangkitkan gairah seks pasangannya. Mencium bibir dengan lidah, atau mengulum puting payudara atau sekedar membicarakan tentang seks juga bisa dikategorikan ke dalam bentuk foreplay. Jadi untuk para pria, alangkah baiknya jika selalu membiasakan diri untuk foreplay atau pemanasan terlebih dahulu dalam jangka waktu yang cukup lama sampai wanita terangsang sebelum berlanjut kepada hubungan intim yang utama.
Bahaya Obesitas
Tahukah anda bahaya dari obesitas bisa menurunkan kemampuan ereksi bagi pria? Sambil berjalan usia, anda lupa akan program sehat yang pernah anda rencanakan, dan berakhir lah dengan obesitas dan ketemu di titik bahaya obesitas. Anda lupa bahwa, karena anda melupakan nikmat kesehatan yang harus anda pelihara dengan cara pola hidup yang sehat akhirnya anda mencapai sebuah bahaya obesitas.Studi yang dilakukan di Australia berskala kecil karena hanya melibatkan 31 relawan. Tetapi kesimpulannya menjadi penting, apalagi penelitian lain menunjukkan bahwa bahwa obesitas dan disfungsi ereksi (DE) seringkali berjalan beriringan.Kelebihan berat badan, terutama penumpukan lemak di perut, bisa mempengaruhi fungsi seksual pria dengan berbagai cara. Obesitas dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memasok darah ke bagian penis, dan menyebabkan produksi testosteron menurun.Pada pria, obesitas secara langsung dikaitkan dengan infertilitas karena bisa memengaruhi sperma. Penelitian telah menemukan, pria yang diet mengonsumsi lemak memiliki sperma yang kualitasnya rendah. Pria yang mengonsumsi lebih banyak lemak jenuh memiliki jumlah sperma 35 persen lebih rendah dan 38 persen lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi sperma pada pria yang makan sehat.




