Pada usia 50 an orgasme bukan lagi target yang ingin dicapai. Setelah memasuki lima dekade, Anda tetap bisa menghidupkan kobaran gairah dengan lebih fokus pada setiap sentuhan. Perhatikan perasaan Anda ketika kulit Anda saling bersentuhan. Seluruh sensasi fisik dan emosional itu akan mendorong produksi hormon oksitosin yang membuat perasaan nyaman. Jika Anda hanya fokus untuk mencapai klimaks, Anda akan kehilangan banyak sensasi. Pada usia ini kaum wanita juga memasuki masa menopause sehingga kondisi vagina lebih kering dan berkurang elastisitasnya.
Foreplay Dulu, Manjakan Wanita
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 33% wanita menginginkan foreplay atau pemanasan yang lebih lama dan berkesan sebelum bercinta. Hal ini kadang dilupakan oleh pria yang cenderung begitu berambisi memuaskan hasratnya sendiri dengan sesegera mungkin sehingga terburu-buru melakukan penetrasi dan ingin mencapai orgasme. Akan tetapi wanita memiliki mesin seks yang lebih lambat daripada pria, mereka ternyata memerlukan waktu yang lebih lama untuk bisa sepenuhnya terangsang dan kemudian mencapai orgasme atau klimaks.
Foreplay bisa dilakukan dengan aktivitas berciuman, berpelukan, membelai dan segala tindakan yang dilakukan untuk membangkitkan gairah seks pasangannya. Mencium bibir dengan lidah, atau mengulum puting payudara atau sekedar membicarakan tentang seks juga bisa dikategorikan ke dalam bentuk foreplay. Jadi untuk para pria, alangkah baiknya jika selalu membiasakan diri untuk foreplay atau pemanasan terlebih dahulu dalam jangka waktu yang cukup lama sampai wanita terangsang sebelum berlanjut kepada hubungan intim yang utama.
Bahaya Obesitas
Tahukah anda bahaya dari obesitas bisa menurunkan kemampuan ereksi bagi pria? Sambil berjalan usia, anda lupa akan program sehat yang pernah anda rencanakan, dan berakhir lah dengan obesitas dan ketemu di titik bahaya obesitas. Anda lupa bahwa, karena anda melupakan nikmat kesehatan yang harus anda pelihara dengan cara pola hidup yang sehat akhirnya anda mencapai sebuah bahaya obesitas.Studi yang dilakukan di Australia berskala kecil karena hanya melibatkan 31 relawan. Tetapi kesimpulannya menjadi penting, apalagi penelitian lain menunjukkan bahwa bahwa obesitas dan disfungsi ereksi (DE) seringkali berjalan beriringan.Kelebihan berat badan, terutama penumpukan lemak di perut, bisa mempengaruhi fungsi seksual pria dengan berbagai cara. Obesitas dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memasok darah ke bagian penis, dan menyebabkan produksi testosteron menurun.Pada pria, obesitas secara langsung dikaitkan dengan infertilitas karena bisa memengaruhi sperma. Penelitian telah menemukan, pria yang diet mengonsumsi lemak memiliki sperma yang kualitasnya rendah. Pria yang mengonsumsi lebih banyak lemak jenuh memiliki jumlah sperma 35 persen lebih rendah dan 38 persen lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi sperma pada pria yang makan sehat.
Sex Addiction
American Psychologican Association menggolongkan sex addiction sebagai gangguan mental pada seseorang yang dapat dipicu dari kebiasaan menonton film porno. Orang yang kecanduan seks jarang melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh orang normal. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyaksikan video porno atau mengunjungi klub striptis. Sejak penggunaan internet semakin meluas, dan layanan jasa berbau seks semakin murah dan mudah, para ahli memperkirakan para penderita sex addict semakin bertambah jumlahnya. Mengobati kecanduan seks, seperti kecanduan lainnya, sangat tergantung dari orang bersangkutan. Jika ia bisa menyadari bahwa perbuatannya salah dan ada kemauan untuk mengubahnya, pengobatan menjadi lebih mudah.Proses pengobatan bisa berupa serangkaian terapi mengenai kesehatan seksual, hubungan cinta yang sehat, pernikahan, atau mengikuti program support group. Proses penyembuhan adalah proses yang harus dijalani pasangan secara satu kesatuan karena menyangkut pemulihan keluarga.
Pria Adalah Makluk Visual
Untuk urusan bercinta, pria memiliki hasrat seksual yang lebih besar dibandingkan wanita. Dikutip dari Webmd, gairah bercinta pria bisa timbul hanya dengan melihat wanita bertubuh seksi. maka dari itu pria sering disebut makluk visual karena bisa langsung bergairah hanya dengan melihat wanita bertubuh sexy. Pada wanita, memunculkan keinginan untuk berhubungan seks bisa lebih sulit daripada pria. Jika pria lebih banyak dipengaruhi faktor fisik, wanita lebih memerhatikan sisi emosional. Hubungan seksual tidak hanya sekadar memuaskan kebutuhan biologis, tapi menciptakan keintiman dan rasa cinta. Karena itu, perlu ‘usaha’ lebih untuk mendapatkan gairah seksual pada wanita. Salah satunya dengan stimulasi di beberapa bagian tubuh tertentu wanita.





